Minggu, 10 Mei 2020

KERJA RODI DAN ROMUSHA, KERJA PAKSA PADA JAMAN PENJAJAHAN " MATERI IPS KELAS 8




 









Pada jaman penjajahan belanda dan jepang rakyat Indonesia mengalami tragedy yang sangat menyengsarakan
Saat Hindia Belanda dan Jepang menguasai Indonesia, rakyat Indonesia dipaksa bekerja untuk kepentingan kedua negara tersebut tanpa pemberian upah. Rakyat menerima perlakuan yang kejam.

1. Kerja Rodi
Arti kerja rodi
Sistem kerja rodi terjadi pada masa penjajahan Hindia Belanda. Kerja rodi membuat rakyat Indonesia sengsara dan jatuh korban jiwa.
Di Indonesia kerja rodi zaman Hinda Belanda yang cukup terkenal saat membangun jalan raya sepanjang kurang lebih 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan pada 1809


Awal kerja rodi
 Kerja rodi di Indonesia dipelopori oleh Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels. Daendels datang ke Indonesia pada 1 Januari 1808 setelah menerima perintah dari Raja Belanda Louis Napoleon. Deandels dikirim ke Indonesia untuk mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman Inggris. Untuk mempertahankan Pulau Jawa, Daendels melakukan berbagai upaya, seperti membangun pabrik senjata di Semarang dan Surabaya.

Kemudian membangun jalan raya dari Anyer hingga Panarukan, dan membangun benteng-benteng untuk pertahanan. Selain kerja paksa, Daendels mengumpulkan uang dari rakyat dengan cara menjual hasil bumi dengan harga murah dan melakukan kebijakan-kebijakan yang memberatkan rakyat. Banyak korban jiwa Semasa kerja rodi, membuat rakyat jadi sengsara. Rakyat harus bekerja keras dengan terus menggali batuan untuk membuat jalan. Pekerja juga tidak mendapatkan upah. Bahkan memperoleh tindakan di luar batas perikemanusian

2. Romusha
Kerja romusha terjadi masa penjajahan Jepang dari tahun 1942 hingga 1945. Sama dengan kerja rodi, romusha juga membuat rakyat menjadi seksaran dan banyak jatuh korban jiwa. Romusha adalah orang-orang yang dipaksa bekerja berat pada zaman pendudukan Jepang. Awal romusha Awal kedatangan Jepang ke Indonesia disambut baik oleh rakyat dan pejuang kemerdekaan. Karena dianggap membantu dalam mengusir Kolonial Belanda. Namun Jepang berbuat licik dan kejam. Jepang mengeruk sumber daya alam yang ada di Indonesia dan dipakai untuk membiayai perang. Wilayah yang dikuasai cukup luas membuat Jepang memerlukan tenaga besar. Tenaga dibutuhkan untuk membangun kubu pertahanan, lapangan udara darurat, gedung bawah tanah, jalan raya, dan jembatan. Tenaga kerja diambil dari penduduk Indonesia dan disebar ke berbagai wilayah. Banyak pekerja romusha yang kondisinya menyedihkan dan jatuh korban jiwa. Baca juga: Jalan Pos Pengumben Ambles, Banyak Pengendara Kecelakaan Pekerja romusha tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan yang dijadikan sebagai pekerja penghibur. Pada 1943, romusha semakin di eksploitasi oleh Jepang yang kalah pada perang Pasifik. Jepang menjadikan romusha sebagai tenaga swasembada untuk membantu perang secara langsung. Berdampak negatif Romusha memberikan dampak mendalam bagi bangsa Indonesia meski Jepang hanya sebentar menjajah. Banyak pekerja yang sangat menderita, kelelahan, kelaparan, kurus, miskin, terserang penyakit hingga meninggal. Karena adanya pengawasan dan siksaan yang kejam tidak berperikemanusiaan.



(Sumber: Palupi Annisa Aulia | Editor: Hilda B Alexander)